Berita Trend Indonesia – Seperti yang kita tahu, saat ini teknologi telah berkembang dengan sangat pesat, dan setiap tahun pasti ada saja gebrakan dan pembaruan dari dunia teknologi.
Transformasi kecanggihan teknologi memang merupakan bentuk nyata dari keajaiban dunia, contoh nyata dari transformasi teknologi yakni dahulu seseorang berkomunikasi menggunakan surat kantor pos, tetapi saat ini seseorang dapat melakukan aktivitas komunikasi hanya dengan menggunakan alat telepon genggam.
Sebagai informasi bahwa teknologi sudah menjadi sahabat kita dalam kehidupan sehari-hari, pasalnya setiap kegiatan yang akan kita lakukan pasti membutuhkan teknologi, contohnya yakni seperti diskusi dengan teman di sosial media, mencari informasi di internet, melakukan pekerjaan dengan internet, dan masih banyak lagi.
Sejumlah penelitian mengklaim bahwa teknologi dapat bedampak positif signifikan terhadap dunia industri, seperti industri bisnis dan ekonomi, industri komunikasi, industri kesehatan, industri pendidikan, industri transportasi, industri lingkungan, dan industri perbankan.
Salah satu contoh nyata dampak positif teknologi terhadap industri perbankan yakni dulu para nasabah harus pergi ke bank atau ATM (Anjungan Tunai Mandiri) dahulu jika ingin melakukan transaksi, tetapi saat ini nasabah hanya perlu akses Mobile Banking melalui telepon genggam yang sudah diverifikasi oleh pihak bank.
Dengan begitu, maka nasabah akan mendapatkan kemudahan dan efisieni waktu serta tenaga karena para nasabah tidak perlu lagi pergi ke bank atau ATM jika ingin melakukan transaksi.
Selanjutnya, keuntungan yang didapat oleh pihak bank yakni mereka mendapatkan kepuasan pelanggan, menghemat beban operasional, mempercepat inovasi dan efisiensi, dan memperluas layanan serta jangkauan nasabah.
Baru-baru ini, pihak Bank Indonesia (BI) mengumumkan bahwa pada tahun 2025 ini pembayaran digital Mobile Banking dan QRIS telah meningkat dengan sangat pesat, yakni meningkat sebesar 40 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dengan total yakni mencapai 4,6 miliar transaksi.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta mengatakan, kenaikan tingkat sistem pembayaran digital dari tahun ke tahun tersebut mencerminkan bahwa saat ini teknologi sistem pembayaran digital sudah menjadi rutinitas ekonomi masyarakat setiap hari, dan mayoritas sistem pembayaran digital yang dipakai ialah Mobile Banking dan QRIS.
Filianingsih Hendarta menjelaskan, dari total keseluruhan sistem pembayaran digital, maka yang masih menjadi andalan dan paling mendominasi ialah Mobile Banking dengan total 2,79 miliar transaksi, selanjutnya disusul dengan transaksi sistem QRIS dengan total 1,68 miliar transaksi.
Berdasarkan data yang ada, maka dijelaskan bahwa rata-rata pengguna transaksi sistem digital Mobile Banking dan QRIS ialah mereka para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), khususnya yang bergerak dalam bidang konsumsi dan jasa.
Filianingsih mengaku bahwa saat ini pihaknya telah menargetkan bahwa sistem pembayaran digital pada tahun 2026 mendatang akan mengalami peningkatan sebesar 29,7 persen dibandingkan dengan tahun 2025.
Menurut Filianingsih Hendarta, meskipun tingkat sistem pembayaran digital Mobile Banking dan QRIS masih sangat marak digemari oleh para masyarakat, tetapi para pelaku industri harus tetap waspada dan hati-hati, karena banyak penipuan yang terjadi karena transaksi digital.
Sebagai contoh biasanya calon pelanggan datang dan membeli makanan atau minuman kepada penjual, dan pelanggan tersebut mengaku sudah membayar melalui QRIS dan telah melihatkan bukti (palsu) ke penjual, awalnya penjual percaya saja, tetapi setelah di cek ternyata bukti tersebut palsu dan hanya gambar editan dari pelaku.
Oleh karena itu, saat ini sistem pembayaran digital seperti Mobile Banking dan QRIS harus segera dikembangan lebih lagi, khsusunya dalam penguatan sistem keamanan dan memberikan edukasi terhadap para pelaku UMKM.
Transaksi Ritel

Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta mengatakan, berdasarkan hasil laporan dari sistem BI-FAST, maka dijelaskan bahwa saat ini telah terdapat transaksi penjualan ritel sebesar 439 transaksi dengan nominal mencapai Rp 1.092 triliun pada November 2025.
Selanjutnya, transaksi penjualan dengan skala besar mencapai 0.87 juta transaksi dengan total nominal Rp 20.463 triliun pada November 2025.
Meskipun transaksi sistem pembayaran digital mengalami peningkatan yang cukup drastis, tetapi pada realitanya transaksi dengan menggunakan uang tunai atau uang kartal juga masih tergolong stabil, yakni Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) juga mengalami peningkatan sebesar 13,09 persen dari tahun sebelumnya.
Filianingsih Hendarta menegaskan bahwa pihak Bank Indonesia akan terus melakukan riset dan pengembangan terkait keamanan dan keandalan infrastruktur SPBI (Sistem Pembayaran Bank Indonesia), baik dalam skala ritel maupun wholesale.
Bahkan, pihak Bank Indonesia juga akan berkolaborasi dengan pihak pemerintah maupun swasta agar inovasi riset dan pengembangan dunia perbankan di Indonesia dapat segera terwujud.
